O l e h : A R D I A N S Y A H*
Minangkabau adalah sebuah etnis yang unik dan populer bukan hanya dengan tradisi merantau namun juga cemerlang dengan tokoh-tokoh intelektual yang sangat fenomenal, yang tidak hanya berskala Nasional namun pengaruh dan pemikiran mereka telah menjangkau dunia Internasional. Sebut saja Hamka yang dikenal dengan tokoh Islam, Hatta sebagai Wakil Presiden Indonesia dan juga Bapak Koperasi, Chairil Anwar sebagai Sastrawan, Tan Malaka sebagai Pejuang Revolusioner, Taufik Abdullah sebagai Sejarawan, dan masih banyak lagi tokoh-tokoh telah yang dicetak oleh Minangkabau.
Mereka ini adalah produk atau hasil besutan dari pola education yang telah ditempa dengan culture Minangkabau yang sangat khas sifatnya. Namun anehnya sebuah etnis yang begitu unik malah menjadi semakin memudar ketika memasuki Era Globalisasi. Dimana pada fase ini masyarakat yang tumbuh dan besar “ditanah” Minangkabau malah banyak yang tidak kenal dan tidak tahu dengan Minangkabau itu sendiri, atau mungkin kita lebih senang bereforia dengan kejayaan dan keberhasilan yang pernah diraih oleh orang Minangkabau masa lampau yang menyebabkan kita lupa dengan identitas dari Minangkabau.
Perlu diketahui sebelum kita bereforia dan berbangga-bangga dengan kejayaan Minangkabau, kita harus tahu ciri khas atau identitas yang mendasar dari orang Minang itu apa ? Beragama Islam, Bangsa Melayu, Matrilineal, semua itu belum sepenuhnya mewakili identitas dari orang Minang, namun yang diperlukan adalah sesuatu opsi yang sangat spesifik sifatnya dan jika orang melihat atau berbicara tentang opsi ini orang akan tahu bahwa ini adalah identitas orang minang. Jadi tidaklah salah bila saya menyimpulkan bahwa memang minangkabau hanya masih bertahan pada teks tapi tidak pada konteksnya.
Contoh kongkrit dari memudarnya budaya minagkabau itu sendiri adalah dari segi adat dan budaya. Pernahkah anda melihat acara penyambutan yang dilakukan oleh orang Minang ketika menyambut tamu penting ? Jika anda pernah melihat pasti anda akan mengatakan bahwa tidak ada yang aneh dari acara tersebut karena acara tersebut dilaksanakan bersifat umum dam formal. Namun jika anda lebih teliti dan kritis mungkin ada akan menemukan kejanggalan yang akan menggelitik pemikiran anda. Coba anda lihat dari pakaian yang dikenakan penyambut tersebut, adalah pakaian adat Minangkabau dengan pakaian Bundo Kanduang. Lalu dimana letak janggalnya ? Kejanggalannya terletak pada pakaian keseharian kita sebagai orang Minang dengan si penyambut tamu jika kita lakukan perbandingan. Realitasnya pakaian yang kita kenakan pada rutinitas biasa adalah pakaian yang bersifat formal dan umum, sesdangkan pakaian untuk penyambutan tamu dipakai pakaian kebesarang orang Minang. Dan menurut saya ini adalah sebuah keanehan yang tidak lucu, dimana kita yang bangga sebagai orang Minag namun jarang memakai pakaian kebesaran Minangkabau. Namun pakaian adat atau pakaian kebesaran tersebut hanya akan berguna atau perlu ketika menyambut tamu saja.
Dari contoh diatas dapatlah ditarik kesimpulan bahwa kita yang bangga memiliki identitas orang minang lebih sering membangga-banggakan budayanya hanya kepada orang lain (kecuali orang minang), namun pada hal, kita sendiri tidak tahu yang manakah budaya kita sendiri yang katanya mempunyai kejayaan tersendiri.
Periode ini dapat pula dikatakan sebagai periode kemunduran bagi orang Minang. Dasar saya mengatakan pada saat ini adalah masa kemunduran bagi orang Minang karena memang pada realitasnya tidak pernah lagi lahir tokoh-tokoh yang sekelas dengan tokoh yang telah saya sebutkan sebelumnya, apakah itu dari segi pemikiranya atau pengaruhnya. Penyebab dari kemunduran orang minang pada dasarnya berasal dari pada masyarakat Minang itu sendiri, dimana kita lebih cendrung menjadikan kejayaan Minagkabau itu sebagai sebuah “beautiful history” yang telah merubahnya menjadi sebuah dongeng sebelum tidur dan berujung pada sebuah “ota”.
Berawal dari kenangangan yang begitu indah inilah masyarakat Minang sering terbuai dan menjadikanya sebagai sebuah utopis yang harus selalu dibanggakan kepada anak cucu kita nantinya. Selain itu paham Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS SBK), dengungnya hanya pernah kita dengar pada saat kita dibangku pendidikan, dan terlepas dari itu kita tidak pernah tahu akan makna dari ABS SBK tersebut. Selain itu pergantian dari Nagari ke Desa juga telah medorong terjadinya perubahan yang sangat urgen dari identitas Minangkabau itu sendiri. Dengan telah berobahnya fungsi Nagari ke Desa maka ecara otomatis pengaruh adat dan corak kulturalnya pun mulai memudar, karena memang didalam Desa kita tidak akan pernah mengenal “Kapalo Suku” atau pun “Kapalo nagari”, tapi susunan birokratis yang kita temukan hanyalah Kepala Desa, RT dan RW.
Intensitanya dengan berpindahnya pola Nagari ke Desa secara tidak langsung pengaruh adat dan budaya menjadi terpinggirkan. Bahkan untuk menghidupkan pola Kanagarian ini kembali pernah dipakai istilah “Kembali Ka Nagari”. Namun yang menjadi tanda tanya adalah protopite Nagari yang asli itu seperti apa ? Nagari yang pernah jaya di masa Datuak Parpatiah nan Sabatang dan Datuak Katumanggungan atau Nagari ciptaan Kolonial Belanda. Dan pastinya untuk me-revival ulang Nagari pada masa Global ini bukanlah hal yang mudah, semudah membalikkan telapak tangan, namun diperlukan sesuatu proses yang agak lama untuk membangkitkan sistem pola Nagari yang sudah lama tertidur pulas.
Selain itu sudah mulai berkurangnya para pemuka adat di Ranah Minang, serta tidak adanya lagi penghormatan antara kemenakan dengan mamak adalah sebuah dilema yang sangat problematis yang memperlihatkan betapa begitu renggangnya hubungan kekerabatan di Ranah Minang pada saat sekarang ini. Jadi memanglah benar bahwa Minangkabau itu sudah tidak ada dan memudar bersama kejayaan yang selalu di elu-elukan dan beruung kepada “ota gadang”. Walaupun ada keinginan untuk menghidupkan kejayaan Minangkabau namun aral yang harus dihadapi begitu besar melintang yang merupakan suatu penghambat yang tidak bisa dianggab remeh.
* * * * * *
*Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Andalas.




Komentar Terakhir