FILM INDONESIA, FILM MURAHAN.

http://www.dickinson.edu/departments/sustainability/Film_Roll.jpg

Oleh : ARDIANSYAH*

Di era yang modern ini anak-anak, remaja, dan orang dewasa lebih banyak menghabiskan waktunya di depan benda persegi empat, yang kita kenal dengan nama Televisi. Ini membuktikan bahwa televisi adalah salah satu kebutuhan primer yang sangat fital sifatnya di dalam suatu keluarga, namun sayangnya acara-acara yang di sungguhkan tidak selalu bermutu, menarik dan kreatif. Kebanyakan acara yang di sungguhkan dan ditampilkan lebih bersifat monoton dan itu-itu saja.

Walaupun demikian keberadaan media ditengah masyarakat memang sangat urgen sifanya, karena pada hakikatnya media itu adalah sebuah cerminan yang dapat membentuk karakteristik dan identitas suatu bangsa. Jika di ibaratkan media itu adalah sebuah cahaya dikala gelap dan penghubung dikala sunyi, tanpa media orang tidak akan melihat lintasan-lintasan peristiwa atau iven histories yang sedang berlangsaung pada masyarakat saat ini.

Hal ini dapat kita lihat dari menjamurnya film-film yang kurang mendidik serta kurang berkwalitas. Salah satunya adalah maraknya film-film yang bergenre atau bertemakan cinta dan horror di perindustrian perfilmman Indonesia. Hal ini tentunya tidak dapat di pandang sebelah mata. Banyak sekali dampak yang ditimbulkan dari film-film ini, dan lebih banyak sisi negatifnya dari pada sisi positif yang di hasilkan dari film ini. Umumnya sisi negative yang di timbulkan dari film ini diantaranya adalah dapat menyesatkan orang-orang yang menontonya. Jika kita teliti lebih mendalam film-film yang acap kali di sungguhkan atau film-film yang sering dilempar kepasaran kebanyakan adalah film-film murahan, film sperti ini lebih bersifat menjual mimpi, cinta, kebohongan serta pembodohan, dan terkadang film ini tidak mempunyai tujuan yang jelas.

Berikut ini adalah penyimpangan-penyimpangan yang di lakukan oleh si pembuat film di Indonesia:
Tidak mempunyai tujuan yang jelas

Mungkin kita sudah jengah dengan sinetron-sinetron yang di telurkan oleh pencipta film di tanah aiar, kita sudah bosan dengan tema yang mereka usung adalah masalah cinta dan cinta, yang lebih parah lagi pada anak-anak usia sekolah sudah diajarkan dokrin-dokrin cinta dan di pertontonkan secara oral cinta ala orang dewasa. Ini adalah suatu pengajaran dan sebuah didikan yang salah, karena anak-anak di usia sekolah sudah di cangkokkan cara bercinta (love education) pada otak mereka. Dampak dari film ini adalah, banyaknya anak-anak di usia sekolah sudah mulai tergoda dengan apa yang dinamakan “cinta”. Berpegangan tangan, berpelukan, sampai keciuman meeka praktekkan, yang ujung-ujungnya konsentrasi sekolah terpecah oleh masalah cinta, dan hal ini tentunya dapat mendorong lahirnya masa kemunduran pada dunia pendidikan. Film dengan kriteria seperti ini adalah film-film yang tidak mempunyai tujuan, karena pada film dengan tipe seperti ini hanya untuk mencari keuntungan atau lebih dikenal dengan film komersial, walaupun terkadang hiburan yang disungguhkan lebih bersifat vulgar dan kurang tersensor.

Menjual mimpi

Selain itu kerap kali film yang ditelurkan dan film yang telah dilempar kepasaran adalah film-film yang bersifat hanya menjual mimpi, contoh: Ada seorang anak yang orang tuanya kaya, di usia yang muda ia sudah menguasai sebuah perusahaan, semua ia miliki, mobil, rumah bagus, dan pacaran sana-sini. Jika kita pikir-pikir apakah ada orang seperti ini di dalam kehidupan nyata? Saya rasa ini mustahil, pada film ini kita melihat bahwa kejadian sperti ini tidaklah realitas, ini dalah sebuah mimpi dan utopis yang mereka jual kepada si penonton.

Musiman

Pada saat ini film-film yang beredar di pasaran umumnya adalah film-filmyang bersifat musiman yang hanya laku keras jika masalah ini sedang menjadi sebuah trendcenter, maksutnya film ini lahir karena adanya tren (musim) di perindustrian perfileman Indonesia. Orang yang membuat film dengan tipe ini adalah orang yang tidak inovasi serta tidak kreatif, ia hanya mengikuti tren yang sedang berlaku, jika film horror sedang laris manis di pasaran, maka mereka akan mencoba mengangkat film yang bertemakan horor juga, walaupun judulnya berbeda, tapi biasanya alur dan tema yang mereka bawakan masih tetap sama. Walau terkadang film dengan tipe ini kerapkali membuat si penonton jadi bosan dan jenuh, karena banyaknya film yang bertukar label tapi alurnya masih sama. Contoh kongkrit yang dapat kita lihat adalah film dengan judul Jalangkung, setelah meledak di pasaran banyak film-film musiman yang mencoba menikuti jejak film jalangkung, seperti kuntilanak 1, 2, 3 dan sebagainya. Selain itu jika film yang bertemakan cinta juga sedang laris di pasaran, mereka juga akan meniru dan mencoba mengusung tema cinta. Hal ini tentunya memperlihatkan bahwa para pencipta film di Indonesia sudah kehabisan ide untuk menciptakan film yang bermutu atau mungkin pencita film itu sendiri adalah seorang amatiran.

Saduran

Film dengan kriteria seperti ini adalah tipe film yang sangat memalukan karena film yang mereka menciptakan sebuah film dengan cara menyadur hasil karya orang lain, maksutnya mereka mengcopy film asing dan membuatnya dalam fersi Indonesia. Umumnya film yang mereka copy adalah film asing yang kurang terkenal, namun juga ada film yang terkenal juga ikut disadur. Misalnya saja film American Pie, siapa yang tidak kenal dengan film komedi ini yang dikenal sebagai film vulgar, karena ketenarannya bahkan lahir film Indonesia Pie versi Indonesia.

Dari poin-poin di atas kita dapat mengambil kesimpulan bahwa hakekat sebuah film yang bermutu harus mempunyai tujuan yang jelas, realitas, kreatif, dan tidak menyadur karya orang lain dan selain itu kita seharusnya juga harus selektif dan kritis didalam film yang akan kita tonton sebelum menelannya. Karena seperti yang saya katakan pada awal tulisan saya, bahwa fungsi media dan intertaiment tidak hanya sebagai penghibur namun juga sebagai cerminan didalam membentuk karakteristik dan identitas suatu bangsa.

*Penulis Adalah Mahasiswa Jurusan Sejarah Fakultas Sastra UNAND

~ oleh ardiansyah di/pada Januari 16, 2008.

7 Tanggapan to “FILM INDONESIA, FILM MURAHAN.”

  1. no comment
    gua juga mau bilang begitu

  2. Setelah membaca artikel anda, saya merasa bahwa tulisan kamu tidak sesuai dengan judul. Kalau kita membicarakan masalah perfilman antara judul dan isi harus sama, jangan lari dari judul.
    Dalam artikel kamu bercerita tentang sinetron dan pembajakan. Alangkah baiknya, jika kamu menulis film dan mentalitas bangsa.
    kalau bicara sinetron, ya mesti ditulis judul baru, kalo pembajakan ya pembajakan. Intinya, dalam menulis kamu harus bertanya, kenapa film Indonesia, film murahan lalu sebutkan, apa imbas bagi generasi muda, dan yang terpenting saya rasa ada sekitar 10 film yang bagus diantaranya Denias, Kiamat sudah dekat, Naga Bonar, tetapi selebihnya hanya menjual mimpi, gaya hidup,
    Tetap menulis ya, saya sebagai penulis pemula (bukan nyombong sih ) berusaha juga untuk menjawab berbagai pertanyaan tentang sinetron, film dll. Tetapi, dalam dunia menulis kita harus benar2 konsisten ! semangat ya bro!

  3. situ bisa ap ?
    selaen ngeritik orng..?

    apa pernah bikin film layar lebar yg bekualitas?

  4. Memang belum banyak yang dapat saya lakukan pada negara ini, tapi setidak-tidaknya kritik saya ini dapat menjadi masukan bagi para insan yang akan menetaskan karya-karyanya di industri perfileman Indonesia ini. Saya memberikan kritik bukanya untuk menjelek-jelekkan siapa pun, namun sya berharab dari kritik ini orang dapat belajar.

    terima kasih atas kritik dan saran anda.

  5. kalo di bilang murahan bukan hanya Film. tapi tulisan atau kritikan anda tendang Film itu sangat murahan.
    tetap mengkritik ya, kami selaku film maker sangat butuh itu. tapi yang kamu kritik harus sesuai dengan yang kamu tau atau pernah kamu alami dan ada hasilnya.
    sukses bro…

  6. Film indonesia itu bisa ditebak alur ceritanya padahall yang bikin seru itu dari cerita yang susah ditebak..apalagi rata2 sekarang paling banyak memproduksi film yang berbau HANTU Indonesia atau ga CINTA weks….yang lebih para lagi sinetron2 di indonesia, tidak mendidik…

  7. saya memang belum pernah membuat film, namun inti dari kritik saya adalah agar film indonesia ini tidak hanya terfokus pada cerita cinta, dan horor. namun juga harus mempunyaitujuan yang jelas dan pesan moral yang dapat diambil himahnya.

Tinggalkan Balasan