IMBAS GLOBALISASI = KRISIS IDENTITAS
Oleh : ARDIANSYAH*
Proses globalisasi adalah sebuah proses mendunianya segala aktifitas, kebudayaan, theology, dan juga pemikiran manusia. Dengan diberlakukanya sistem globalisasi tentunya tidak terlepas dari manfaat dan imbasnya yang akan diterima masyarakat, karena belum tentu efek dari sebuah globalisasi itu selalu menguntungkan namun tidak dapat pula dipungkiri bahwa proses ini juga dapat melahirkan sebuah arus yang tidak dapat di tolak oleh sebuah masyarakat. Karena dengan adanya sistem globalisasi, telah melahirkan sebuah kegamangan atau keraguan pada jati diri suatu bangsa, akan identitas mereka, kiblat mereka, serta ideologi yang mereka anut. Tidak heran jika seorang komunis akan menjadi seorang liberal, tidak heran jika seorang yang memperacayai theology berobah arus menjadi atheis.
Ini adalah efek yang akan ditimbulkan dari sebuah pemahaman yang dikenal dengan efek globalisasi dimana seseorang telah kehilangan jati dirinya dan tidak mempunyai pandagan atau rancangan untuk hidupnya sendiri. Coba kita renungkan sejenak apakah baju yang anda pakai adalah suatu ciri khas bangsa anda ? apakah gaya hidup yang anda anggap sebagai “manusia modern” adalah sebuah produk orosinil Indonesia ?. Tidak, karena memang baju yang yang anda kenakan sekarang bukan sebuah identitas Indonesia, gaya hidup yang anda lakoni juga bukan “style Indonesia”, namun yang anda kenakan sekarang adalah sebuah hasil akulturasi dan asimilasi dari kebudayaan Barat yang anda telan mentah-mentah tanpa menyaringnya karena anda begitu menggilainya.
Menguniversalnya sistem globalisasi tentunya tidak terlepas dari sebuah wadah publikasi yang dikenal dengan media, hal ini dikarenakan media adalah sebuah cermin dan juga sebuah penghubung yang menjadi acuan suatu masyarakat terhadap sebuah proses pengenalan terhadap masyarakat modern. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa memalui sebuah media identitas suatu masyarakat terbentuk, baik itu media cetak taupun media elektronik. Media pada masa globalisasi bukan saja terpaku pada sebuah cerminan namun juga sebuah proses pengajaran yang mendidik dan keberadaanya sangatlah penting.
Apa yang telah kita dapatkan dari media ? media mengajarkan cara berfikir yang bebas, media meberikan pemikiran-pemikiran baru, media memberikan wajah baru, media meberi pengetahuan, ilmu, informasi, sampai kemasalah pembetukan identitas. Keberadaan media ditengah sebuah masyarakat dapat dibaratkan sebagai lentera dikala gelap, dan mata dikala terang. Dengan media kita dapat berbicara, serta media adalah sebuah wadah didalam menginterprestasikan hasil pemikiran kita pada khalayak dan mendapat pengakuan oleh public, media juga merupakan jendela untuk meneropong dunia luas dari sebuah pendeskripsian.
Adanya euforia pada masyarakat Indonesia terhadap globalisasi telah membuat kita telah lalai dan lengah bahwa globalisasi tidak hanya mengembangkan sayapnya di bumi Indonesia ini namun juga telah menggerogoti adat dan budaya dari bangsa ini. Padahal jika perhatikan bahwa inti dari sebuah adat dan budaya adalah sebuah warisan yang sangat urgen sifatnya di dalam membentuk karakteristik dan identittas suatu bangsa, maksut saya adalah begini jika anda ingat dengan Kimono maka anda akan ingat dengan Negara Matahari dengan Hinomaru mereka dan juga dengan Harakiri mereka, dan jika anda ingat dengan Baju Kurung pasti anda akan ingat dengat sebuah etnis yang dikenal dengan Minangkabau. Jadi dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya adat dan budaya itu sendirilah yang telah menciptakan identitas suatu bangsa.
Tidak hanya pada masalah identitas saja yang menjadi tolak ukur atas “impack” dari sebuah globalisasi yang sangat universal tersebut. Dari sifatnya yang begitu universal juga telah mempengaruhi pola fikir masyarakat yang awalnya harus “nyungkem” dan patuh telah bertranformasi menjadi sebuah pola fakir yang bebas dan kritis. Karena pada dasarnya otak di ciptakan Tuhah adalah untuk berfikir dan bukan untuk menghafal jadi tidaklah salah jika lahir pemikiran-pemikiran baru yang bermula dari suatu proses pengkritisan. Masalah ini sebenarnya cukup mendapat sambutan yang antusias karena pada periode globalisasi pandangan dan pemikiran-pemikiran baru begitu dihargai tanpa ada pendiskriminasian yang akan berujung perpecehan etnik.
Periode post globalisasi adalah sebuah paham yang telah melahirkan paham Deisme dimana adanya keyakinan atau sebuah image dari pandangan public bahwa manusia meyakini theology hanya terbatas pada proses penciptaan dan terlepas dari proses penciptaan tuhan membebaskan saya untuk memilih mana yang terbaik untuk saya. Namun entinitasnya dengan adanya pahan Deisme ini telah melahirkan sifat kemunafikan atas diri mereka.
Namun yang menjadi batu sandungan saat ini adalah kita boleh bereforia dengan adanya globalisasi, kita boleh bangga kesetaraan yang di hasilkan globalisasi. Namun kita tidah harus menelan bulat-bulat bahwa globalisasi itu adalah sebuah kebaikan yang harus di telan mutlak adanya, namun kita harus mengkritisinya apakah ini cocok dengan adat budaya Indonesia, apakah ini identitas kita, yang mungkin saja dengan melihat pola dan cara berfikir kita orang lain akan menilai bahwa ini adalah Indonesia, inilah identitas sebuah Negara yang besar yang dikenal dengan Indonesia. Sayangnya apa yang diharapkan tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, hal ini dikarenakan pola fakir dan pandangan setiap manusia itu unik dan berbeda yang mungkin saja ini adalah sebuah kekreatifitasan.
*Penulis Adalah Mahasiswa Jurusan Sejarah Fakultas Sastra UNAND

Sudah sewajarnya kita sebagai manusia yang memiliki keyakinan beragama,menjunjung tinggi nilai dan budaya negara kita Indonesia yang merupakan cerminan bagi identitas bangsa kita di dunia globalisasi.dan kalau saja saat ini banyak orang yang sadar akan hal ini tentunya kita tidak akan terpuruk dan menjadi budak bagi bangsa lain.